Heru Susetyo Nuswanto
Articles by this Author
AL QUR'AN-NYA BERBEDA YA
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 09/1/2009
- Experience
- Rating: Unrated
Attachments
ARAB JAWI DI NEGERI ES KOPI
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 07/26/2009
- Experience
- Rating: Unrated
Aksara Arab Jawi, atau di Indonesia sering disebut 'Arab Pegon' dan 'Arab Gundul', ternyata tak hanya eksis di Malaysia (Trengganu, Kelantan, Kedah dan Perlis) dan Thailand Selatan (Patani, Yala, Narathiwat), namun juga di 'negeri es kopi' Vietnam.
Attachments
MYANMAR : TIPS MENYELINAP DARI THAILAND DAN KESAN PERTAMA
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 07/26/2009
- Experience
- Rating: Unrated
Attachments
Tin Yu dan Kemiskinan di Negeri Penuh Anomali
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 07/26/2009
- Experience
- Rating: Unrated
TIN YU DAN KEMISKINAN DI NEGERI PENUH ANOMALI
Namanya Tinyu atau Tin Yu.Ia lelaki berusia lima puluh tahun yang nampak lebih tua dari usianya. Profesinya adalah menarik becak Myanmar (alias trishaw).Berbeda dengan becak Indonesia, becak Myanmar adalah sepeda onthel (jengki) yang dipasangbangku tambahannya di sampingnya.Bangku ini menghadap ke depan dan ke belakang. So, sang pengemudi berada persis di samping penumpang, tidak di depan apalagi di belakangnya.
Tin Yu biasa ngetem di 25th street Mandalay cityMyanmar.Tepatnya di satu ruas jalan antara 82th dan 82rd street.Seperti halnya hampir semua lelaki Myanmar, ia selalu menggunakan sarung (longyi) kemanapun.Terbayang kan bagaimana menarik becak dengan menggunakan sarung?
Di limapuluh tahun usianya hidup tampak masih amat sulit bagi Tin Yu.Saat pria-pria seusianya di negeri jiran Thailand, Malaysia dan Singapore sudah mentas dan menggapai puncak karir,Tin Yu masih asyik berkutat menekuri jalan-jalan rusak Mandalay setiap hari.
"Terimakasih mau menjadi penumpang saya hari ini. Anda adalah tamu pertama saya di hari ini dan mungkin juga hanya satu-satunya." Ujar Tin Yu riang dalam bahasa Inggris yang amat lancar.
"Bagaimana bisa?" tanya saya penasaran. "Ini kan kota turis?""Saya sering tidak dapat pelanggan dalam satu hari . Susah mencari pelanggan disini.Makanya saya bilang anda mungkin pelanggan saya satu-satunya hari ini.Terimakasih mau menjadi penumpang saya. Saya akan pulang bawa uang hari ini, istri saya akan senang,"tambah Tin Yu.
Saya terkesima.Saya hanya membayarnya 2000 Kyat (setara dengan US $ 1.7 untuk perjalanan dari motel saya ke sisi Mandalay ancient royal place.Perjalanan sekitar lima kilometer dengan menggenjot becak berisi saya tentunya tidak mudah.
Layaknya tourist guide, Tin Yu kerap mengajak saya bercakap-cakap.Tak bosan-bosan ia menerangkan ini itu tentang Mandalay.Lelaki berputra lima dan bercucu dua ini ternyata rekan perjalanan yang mengasyikkan."Iya istri saya pasti senang saya membawa 2000 Kyat,saya bisa pulang dengan tenang,"tambahnya lagi.Saya jadi malu.Sering tanpa merasa berdosa saya menghambur-hamburkan uang senilai 2000 kyat untuk keperluan yang tidak jelas.Tapi, bagi seorang Tin Yu, 2000 Kyat adalah kehidupan. Maka, untuk 'mengurangi dosa' saya, seusai fun trip dengan Tin Yu, saya menambah lagi 1300 Kyat sebagai bonus untuknya(belakangan saya menyesal lagi, mengapa saya hanya menambah 1300 Kyat yang hanya setara US $ 1, padahal saya bisa memberi lebih).
Dan Tin Yu bukan satu-satunya orang yang mewakili wajah kemiskinan Myanmar.Masih banyak Tin Yu – Tin Yu lain dari beragam profesi yang tetap survive di tengah keterpurukan negeri ini.Rekan Myanmar saya, sebut saja Ko, mengatakan bahwa starting salary untuk lulusan S1 di Myanmar hanya berkisar 40.000 kyatper bulan (alias US $ 34 sahaja karena US $ 1 = 1200 kyat).Tak heran negeri ini menempati urutan ke 135 dalam daftar Human Development Index UNDP tahun 2008.Bukan yang paling bawah di dunia, tapi termasuk yang paling jeblok di Asia Tenggara(Indonesia pada saat bersamaan menempati urutan ke 109, Vietnam 114,dan Lao PDR urutan ke 133.Hanya Brunei, Singapore dan Malaysia yang masuk kategori high HDI di papan atas).
Kembali, didorong rasa penasaran, saya mengajukan pertanyaan bodoh : "Kok bisa kalian survive dengan uang segitu?""Buktinya bisa kok. Kami survive,"ujar Ma, rekan saya yang lain.
Disamping miskin,negeri ini juga sarat dengan anomali.Mulanya saya tak percaya informasi tentang sejumlah anomalidi buku biru Lonely Planet berjudul "Myanmar" yang saya miliki.Namun setelah terjun ke dalamnya, ternyata sebagian besar benar adanya.Ini dia beberapa anomali Myanmar yang saya jumpai pada perjalanan ketiga saya ke Myanmar (dua perjalanan pertama hanya menciprat kota Tachilek di Shan State yang berbatasan darat dengan Mae Sai Thailand) :
- Negeri ini asli gak punya ATM satupun juga.Makanya saya kecele abis ketika hanya membawa US Dollar dan Bath Thailand dalam jumlah pas-pasan.
- Model pembayaran dengan credit card juga kurang lazim.Gunakan-lah cash dimana-mana.
- US Dollar lebih disukai daripada mata uang mereka sendiri, Kyat. 1 USD sama dengan 1200 Kyat.Kondisi ini hampir sama dengan Lao PDR, Cambodia, dan Vietnam.Anehnya lagi, mereka hanya menerima US Dollar seri yang lebih baru, tak boleh ada noda sedikitpun, tak boleh terlipat atau lecek dan tak terpotong.Hampir mirip money changer di Indonesia.Saya sempat kesal dengan kondisi ini.Ketika mesti bayar airport tax di bandara Yangon untuk international departure, uang USD 5 saya dikembalikan hanya karena sedikit bernoktah biru."Maaf saya tak bisa menerima ini, ada lima dollar yang lain?"tanya sang Mbak-Mbak petugas."Tidak ada, saya bayar dengan Burma Kyat ya," jawab saya sedikit galak.
- Money changer adalah barang langka di negeri ini.Hanya sedikit dijumpai dan rata-rata diemohi oleh pelanggan karena rate-nya yang abnormal.Pelanggan lebih suka ke 'black market' karena rate-nya yang biasanya lebih tinggi ataupun menukar di hotel yang sedikit lebih terpercaya.Terus terang, saya, dengan bantuan teman saya Ko, sekali menukar uang Thai Bath saya di Black Market.Ko bertransaksi dengan seorang pemuda bersarung layaknya transaksi narkoba. Penuh kehati-hatian, saling berbisik, melihat ke kiri dan kanan, dan tahu-tahu menyelinap hilang dan kembali dengan uang Kyat dua gepokan besar."Terus terang ini berbahaya Heru, kalau tertangkap bisa dipenjara sekian tahun, Cuma kita tak punya pilihan,"ujar Ko.Wow, terimakasih Ko for sacrificing your life !Penukaran uang kedua saya lakukan di hotel tempat saya menginap, Mother Land Inn 2 yang berlokasi di 433 Lower Pazundaung Yangon.Dan alhamdulillah rate-nya cukup baik dan saya tak mesti mengorbankan keselamatan satu orang pun.
- Myanmar memiliki traffic yang aneh.Mobil dan semua moda transportasi berjalan di sebelah kanan jalan (seperti di US) dan jirannya Lao PDR, Vietnam dan Cambodia,tapi sebagian mobilnya justru ber-stir kanan juga (persis di Indonesia dan Thailand).Semestinya apabila jalan di kanan harus menggunakan stir kiri supaya lebih safe dan tidak disoriented.
- Saya seperti melihat Indonesia di tahun 1970 – 1980-an ketika melihat moda transportasi Myanmar. Mobil-mobil jadul berstir kanan seperti Corolla DX, Corolla GL, Corona 76, Nissan jadul, hingga Mazda kotak sabun produksi tahun 1960-an masih bertebaran di jalanan Yangon dan Mandalay. Sulit sekali menemukan mobil produksi 90-an apalagi 2000-an.
- Hampir semua taxi-nya, maaf, buruk rupa.Ber-cat putih, bertahun jadul, sering tanpa jendela, tanpa karpet di bawah, persneling nyaris lepas dari dudukannya, dan, ini yang menarik, sama sekali tak perlu pake seat belt."Mana seat belt-nya Ma, kok saya tak lihat," tanya saya polos ketika menumpang taxi dari bandara menuju downtown."Bercanda kamu Heru, ini Burma, tak perlu pakai seat belt!" jawab Ma ringan.
- Listrik adalah persoalan besar di Myanmar.Di kota besarnya seperti Yangon dan Mandalay saja sering mati lampu.Maka, hampir semua bangunan publik memiliki generator.Jalanan di Mandalay pada malam hari diliputi kegelapan. Karena lampu jalan tak tersedia.Cahaya-cahaya yang tersedia kebanyakan berasal dari lampu-lampu rumah yang menyala via generator.
- Air Conditioner alias Ase juga tak otomatis mudah dinikmati. Kamar ber-AC di hostel murahan, seperti yang saya tinggali di Mandalay, bisa diperoleh tapi dengan embel-embel :"listrik akan mati sewaktu-waktu, Air Conditioner akan nyala selama listrik disuplai oleh pemerintah"gubrak!
- Sirih menyirih adalah budaya Myanmar yang menarik.Hampir semua kalangan gemar mengunyah sirih.Sebungkah daun yang konon tumbuh di sekitar Inle Lake, diisi dengan satu dua jenis tumbuhan lalu dipoles dengan cairan tertentu dan akhirnya dilipat.Ketika dikunyah akan meninggalkan rona merah pada gusi dan gigi lalu siap disemprotkan.Kendati tradisi ini menarik, sayangnya orang terkadang tidak pilih-pilih tempat untuk menyemprot dan meludah. Seorang rohaniawan yang duduk di kursi samping saya di pesawat ATR 72 Air Bagan , dengan tenangnya meludah beberapa menit sekali ke dalam plastic yang dibawanya. Kumpulan ludah berwarna merah itu ditinggalkan begitu saja dalam plastic di bawah kursi pesawat ketika ia beranjak keluar pesawat.Meninggalkan peer besar bagi cleaning service.
- Bandara alias airport adalah anomali berikutnya di Myanmar.Di tiga bandara yang saya singgahi, Yangon, Naypyidaw, dan Mandalay, terkandung nilai-nilai kemewahan sekaligus kemiskinan.International terminal di Yangon Airport begitu mewah, sementara domestic terminalnya begitu kumuh.Di imigrasi counter ada dua petugas yang melayani satu orang passenger. Satu mendata, yang lain mengecek dan menentukan orang ini boleh masuk Myanmar atau tidak.
- Ironisnya, domestic terminal Yangon airport tak ubah, maaf, seperti bis terminal.Tak ada ban berjalan dalam bentuk yang modern maupun yang sederhana sekalipun untuk menghantarkan bagasi ke penumpang.Maka, begitu barang dihantarkan petugas ke pintu terminal, silakan geret sendiri bagasi anda mulai dari pintu terminal hingga ke taxi.Petugas porter banyak tersedia, yang uniknya, menunggu di tangga pesawat atau di tempat bis airport menurunkan penumpang.Security terminal juga santai saja.Saya kebetulan masuk terminal pertama kali di pagi hari.Ketika saya check in, metal detector belum lagi dinyalakan dan counter check in baru buka.Barang saya dengan enteng digeret saja oleh petugas menuju mobil pengangkut.Karena ban berjalan tak tersedia. Sayapun melenggang masuk terminal keberangkatan dengan leluasa, karena saya datang lebih cepat dari petugas dan metal detector belum nyala.Serunya,sebelum pintu terminal dibuka,para calon penumpang duduk lesehan berjongkok di tangga terminal dan di parkiran sambil membawa berbagai macam perabot.Persis, maaf lagi, menanti bus antar kota tiba. Wese (baca WC) adalah horror berikutnya.Banyak, maaf, tinja yang belum dibersihkan dan menyangkut di lubang closet.
- Kemubaziran adalah bahasa yang pantas untuk fasilitas bandara di Yangon dan Mandalay.International terminal-nya memiliki garbarata cukup banyak namun tak satupun digunakan.Penumpang turun dari pesawat dengan menumpang bus aiport lalu masuk ke arrival terminal melalui tangga biasa.Lalu untuk apa garbarata yang masih baru dan tampak lux tersebut?
- Myanmar memiliki lima maskapai penerbangan, Myanma Airways-Myanmar Airways International, Yangon Airways, Air Bagan dan Air Mandalay.Tiga yang terakhir adalah swasta punya.Mayoritas pesawat kelima maskapai ini adalah pesawat tua berbaling baling, apakah Fokker 27 dan ATR 42/ ATR 72.Air Bagan memiliki Fokker 100 dan Airbus A310 (namun sedang tidak terbang), dan MAI punya pesawat Boeing 737 800.Namun tetap yang terlihat lalu lalang beredar adalah pesawat propeller ATR.Maka, pemandangan di bandara cukup unik.Apron di bandara internasional-nya sepi pesawat, kalaupun ada hanyalah pesawat berbaling-baling.
- Informasi dari buku Lonely Planet,imigrasi di Myanmar tidak hanya untuk international tapi juga untuk domestic departures.Dan saya menemukannya di Mandalay, ketika penumpang berkewargenegaraan Burma mesti dicek ID card-nya di bandara Mandalay hanya untuk terbang ke kota lain di negara yang sama.Jadi ingat dengan muslim Rohingya di provinsi Rakhaing/ Rakhine/ Arakan, dimana untuk bepergian ke desa lain saja merekamesti memiliki traveling permit.
- Jaringan selular di Myanmar termasuk mengerikan. Harga satu sim card amat mahal, sekitar US $ 20, itupun pulsanya mahal dan berlaku hanya satu bulan. Teman saya Ma mengatakan, "Jaringan selular disini amat mahal. Saya punya henpon hanya untuk menerima panggilan, tidak untuk menelepon."Provider seluler Thailand dan Indonesia tak satupun yang sinyalnya dapat ditangkap (saya bawa Simpati, XL dan Matrix sekaligus dan semuanya tewas, juga jaringan Thai - DTAC dan AIS saya).
- Internet? he he he.Di dua warnet yang saya kunjungi di Yangon dan Mandalay, aksesnya lumayan lambat dan yahoo.com serta gmail.com diblokir. Dan jangan lama-lama di warnet, karena listrik bisa mati sewaktu-waktu ketika kita tengah asyik fesbukan dan ber-email ria.
- Jangan banyak bicara politik di Myanmar.Dalam bahasa apapun.Dua teman Myanmar saya amat hati-hati (bahkan cenderung takut) menjawab pertanyaan saya yang sering 'kelepasan'.Ketika saya terlalu banyak bertanya tentang berbagai macam anomali politik sosial dan ekonomi Myanmar, mereka dengan gampang menjawab, " Ok, saya akan jawab pertanyaan kamu di Bangkok, tidak disini."
- Resep untuk survive di Myanmar di tengah iklim ketidakbebasan ini, menurut kedua teman Myanmar saya adalah :"Jadilah low profile dan bekerja keras, jangan terlalu hiraukan segala macam keanehan di sekeliling kamu,"
Demikian sekilas info dari Myanmar,rekam jejak dari seorang first-time traveler to Yangon and Mandalay. Sangat mungkin ini subyektif dan sulit digeneralisasi. Ala kulli hal, namanya juga kesan pertama…
Namun, bagaimanapun parah kondisinya, Myanmar tetap worth visiting.Tetap banyak local wisdoms yang bisa kita pelajari dan orang-orang hebat tempat kita berguru,di tengah segala kesederhanaan dan keterbatasan yang mereka miliki.
Semoga junta militer Myanmar tak memblokir tulisan ini (makanya dibuat dalam bahasa Indonesia), he he he, peace !
TIN YU DAN KEMISKINAN DI NEGERI PENUH ANOMALI
Namanya Tinyu atau Tin Yu.Ia lelaki berusia lima puluh tahun yang nampak lebih tua dari usianya. Profesinya adalah menarik becak Myanmar (alias trishaw).Berbeda dengan becak Indonesia, becak Myanmar adalah sepeda onthel (jengki) yang dipasangbangku tambahannya di sampingnya.Bangku ini menghadap ke depan dan ke belakang. So, sang pengemudi berada persis di samping penumpang, tidak di depan apalagi di belakangnya.
Tin Yu biasa ngetem di 25th street Mandalay cityMyanmar.Tepatnya di satu ruas jalan antara 82th dan 82rd street.Seperti halnya hampir semua lelaki Myanmar, ia selalu menggunakan sarung (longyi) kemanapun.Terbayang kan bagaimana menarik becak dengan menggunakan sarung?
Di limapuluh tahun usianya hidup tampak masih amat sulit bagi Tin Yu.Saat pria-pria seusianya di negeri jiran Thailand, Malaysia dan Singapore sudah mentas dan menggapai puncak karir,Tin Yu masih asyik berkutat menekuri jalan-jalan rusak Mandalay setiap hari.
"Terimakasih mau menjadi penumpang saya hari ini. Anda adalah tamu pertama saya di hari ini dan mungkin juga hanya satu-satunya." Ujar Tin Yu riang dalam bahasa Inggris yang amat lancar.
"Bagaimana bisa?" tanya saya penasaran. "Ini kan kota turis?""Saya sering tidak dapat pelanggan dalam satu hari . Susah mencari pelanggan disini.Makanya saya bilang anda mungkin pelanggan saya satu-satunya hari ini.Terimakasih mau menjadi penumpang saya. Saya akan pulang bawa uang hari ini, istri saya akan senang,"tambah Tin Yu.
Saya terkesima.Saya hanya membayarnya 2000 Kyat (setara dengan US $ 1.7 untuk perjalanan dari motel saya ke sisi Mandalay ancient royal place.Perjalanan sekitar lima kilometer dengan menggenjot becak berisi saya tentunya tidak mudah.
Layaknya tourist guide, Tin Yu kerap mengajak saya bercakap-cakap.Tak bosan-bosan ia menerangkan ini itu tentang Mandalay.Lelaki berputra lima dan bercucu dua ini ternyata rekan perjalanan yang mengasyikkan."Iya istri saya pasti senang saya membawa 2000 Kyat,saya bisa pulang dengan tenang,"tambahnya lagi.Saya jadi malu.Sering tanpa merasa berdosa saya menghambur-hamburkan uang senilai 2000 kyat untuk keperluan yang tidak jelas.Tapi, bagi seorang Tin Yu, 2000 Kyat adalah kehidupan. Maka, untuk 'mengurangi dosa' saya, seusai fun trip dengan Tin Yu, saya menambah lagi 1300 Kyat sebagai bonus untuknya(belakangan saya menyesal lagi, mengapa saya hanya menambah 1300 Kyat yang hanya setara US $ 1, padahal saya bisa memberi lebih).
Dan Tin Yu bukan satu-satunya orang yang mewakili wajah kemiskinan Myanmar.Masih banyak Tin Yu – Tin Yu lain dari beragam profesi yang tetap survive di tengah keterpurukan negeri ini.Rekan Myanmar saya, sebut saja Ko, mengatakan bahwa starting salary untuk lulusan S1 di Myanmar hanya berkisar 40.000 kyatper bulan (alias US $ 34 sahaja karena US $ 1 = 1200 kyat).Tak heran negeri ini menempati urutan ke 135 dalam daftar Human Development Index UNDP tahun 2008.Bukan yang paling bawah di dunia, tapi termasuk yang paling jeblok di Asia Tenggara(Indonesia pada saat bersamaan menempati urutan ke 109, Vietnam 114,dan Lao PDR urutan ke 133.Hanya Brunei, Singapore dan Malaysia yang masuk kategori high HDI di papan atas).
Kembali, didorong rasa penasaran, saya mengajukan pertanyaan bodoh : "Kok bisa kalian survive dengan uang segitu?""Buktinya bisa kok. Kami survive,"ujar Ma, rekan saya yang lain.
Disamping miskin,negeri ini juga sarat dengan anomali.Mulanya saya tak percaya informasi tentang sejumlah anomalidi buku biru Lonely Planet berjudul "Myanmar" yang saya miliki.Namun setelah terjun ke dalamnya, ternyata sebagian besar benar adanya.Ini dia beberapa anomali Myanmar yang saya jumpai pada perjalanan ketiga saya ke Myanmar (dua perjalanan pertama hanya menciprat kota Tachilek di Shan State yang berbatasan darat dengan Mae Sai Thailand) :
- Negeri ini asli gak punya ATM satupun juga.Makanya saya kecele abis ketika hanya membawa US Dollar dan Bath Thailand dalam jumlah pas-pasan.
- Model pembayaran dengan credit card juga kurang lazim.Gunakan-lah cash dimana-mana.
- US Dollar lebih disukai daripada mata uang mereka sendiri, Kyat. 1 USD sama dengan 1200 Kyat.Kondisi ini hampir sama dengan Lao PDR, Cambodia, dan Vietnam.Anehnya lagi, mereka hanya menerima US Dollar seri yang lebih baru, tak boleh ada noda sedikitpun, tak boleh terlipat atau lecek dan tak terpotong.Hampir mirip money changer di Indonesia.Saya sempat kesal dengan kondisi ini.Ketika mesti bayar airport tax di bandara Yangon untuk international departure, uang USD 5 saya dikembalikan hanya karena sedikit bernoktah biru."Maaf saya tak bisa menerima ini, ada lima dollar yang lain?"tanya sang Mbak-Mbak petugas."Tidak ada, saya bayar dengan Burma Kyat ya," jawab saya sedikit galak.
- Money changer adalah barang langka di negeri ini.Hanya sedikit dijumpai dan rata-rata diemohi oleh pelanggan karena rate-nya yang abnormal.Pelanggan lebih suka ke 'black market' karena rate-nya yang biasanya lebih tinggi ataupun menukar di hotel yang sedikit lebih terpercaya.Terus terang, saya, dengan bantuan teman saya Ko, sekali menukar uang Thai Bath saya di Black Market.Ko bertransaksi dengan seorang pemuda bersarung layaknya transaksi narkoba. Penuh kehati-hatian, saling berbisik, melihat ke kiri dan kanan, dan tahu-tahu menyelinap hilang dan kembali dengan uang Kyat dua gepokan besar."Terus terang ini berbahaya Heru, kalau tertangkap bisa dipenjara sekian tahun, Cuma kita tak punya pilihan,"ujar Ko.Wow, terimakasih Ko for sacrificing your life !Penukaran uang kedua saya lakukan di hotel tempat saya menginap, Mother Land Inn 2 yang berlokasi di 433 Lower Pazundaung Yangon.Dan alhamdulillah rate-nya cukup baik dan saya tak mesti mengorbankan keselamatan satu orang pun.
- Myanmar memiliki traffic yang aneh.Mobil dan semua moda transportasi berjalan di sebelah kanan jalan (seperti di US) dan jirannya Lao PDR, Vietnam dan Cambodia,tapi sebagian mobilnya justru ber-stir kanan juga (persis di Indonesia dan Thailand).Semestinya apabila jalan di kanan harus menggunakan stir kiri supaya lebih safe dan tidak disoriented.
- Saya seperti melihat Indonesia di tahun 1970 – 1980-an ketika melihat moda transportasi Myanmar. Mobil-mobil jadul berstir kanan seperti Corolla DX, Corolla GL, Corona 76, Nissan jadul, hingga Mazda kotak sabun produksi tahun 1960-an masih bertebaran di jalanan Yangon dan Mandalay. Sulit sekali menemukan mobil produksi 90-an apalagi 2000-an.
- Hampir semua taxi-nya, maaf, buruk rupa.Ber-cat putih, bertahun jadul, sering tanpa jendela, tanpa karpet di bawah, persneling nyaris lepas dari dudukannya, dan, ini yang menarik, sama sekali tak perlu pake seat belt."Mana seat belt-nya Ma, kok saya tak lihat," tanya saya polos ketika menumpang taxi dari bandara menuju downtown."Bercanda kamu Heru, ini Burma, tak perlu pakai seat belt!" jawab Ma ringan.
- Listrik adalah persoalan besar di Myanmar.Di kota besarnya seperti Yangon dan Mandalay saja sering mati lampu.Maka, hampir semua bangunan publik memiliki generator.Jalanan di Mandalay pada malam hari diliputi kegelapan. Karena lampu jalan tak tersedia.Cahaya-cahaya yang tersedia kebanyakan berasal dari lampu-lampu rumah yang menyala via generator.
- Air Conditioner alias Ase juga tak otomatis mudah dinikmati. Kamar ber-AC di hostel murahan, seperti yang saya tinggali di Mandalay, bisa diperoleh tapi dengan embel-embel :"listrik akan mati sewaktu-waktu, Air Conditioner akan nyala selama listrik disuplai oleh pemerintah"gubrak!
- Sirih menyirih adalah budaya Myanmar yang menarik.Hampir semua kalangan gemar mengunyah sirih.Sebungkah daun yang konon tumbuh di sekitar Inle Lake, diisi dengan satu dua jenis tumbuhan lalu dipoles dengan cairan tertentu dan akhirnya dilipat.Ketika dikunyah akan meninggalkan rona merah pada gusi dan gigi lalu siap disemprotkan.Kendati tradisi ini menarik, sayangnya orang terkadang tidak pilih-pilih tempat untuk menyemprot dan meludah. Seorang rohaniawan yang duduk di kursi samping saya di pesawat ATR 72 Air Bagan , dengan tenangnya meludah beberapa menit sekali ke dalam plastic yang dibawanya. Kumpulan ludah berwarna merah itu ditinggalkan begitu saja dalam plastic di bawah kursi pesawat ketika ia beranjak keluar pesawat.Meninggalkan peer besar bagi cleaning service.
- Bandara alias airport adalah anomali berikutnya di Myanmar.Di tiga bandara yang saya singgahi, Yangon, Naypyidaw, dan Mandalay, terkandung nilai-nilai kemewahan sekaligus kemiskinan.International terminal di Yangon Airport begitu mewah, sementara domestic terminalnya begitu kumuh.Di imigrasi counter ada dua petugas yang melayani satu orang passenger. Satu mendata, yang lain mengecek dan menentukan orang ini boleh masuk Myanmar atau tidak.
- Ironisnya, domestic terminal Yangon airport tak ubah, maaf, seperti bis terminal.Tak ada ban berjalan dalam bentuk yang modern maupun yang sederhana sekalipun untuk menghantarkan bagasi ke penumpang.Maka, begitu barang dihantarkan petugas ke pintu terminal, silakan geret sendiri bagasi anda mulai dari pintu terminal hingga ke taxi.Petugas porter banyak tersedia, yang uniknya, menunggu di tangga pesawat atau di tempat bis airport menurunkan penumpang.Security terminal juga santai saja.Saya kebetulan masuk terminal pertama kali di pagi hari.Ketika saya check in, metal detector belum lagi dinyalakan dan counter check in baru buka.Barang saya dengan enteng digeret saja oleh petugas menuju mobil pengangkut.Karena ban berjalan tak tersedia. Sayapun melenggang masuk terminal keberangkatan dengan leluasa, karena saya datang lebih cepat dari petugas dan metal detector belum nyala.Serunya,sebelum pintu terminal dibuka,para calon penumpang duduk lesehan berjongkok di tangga terminal dan di parkiran sambil membawa berbagai macam perabot.Persis, maaf lagi, menanti bus antar kota tiba. Wese (baca WC) adalah horror berikutnya.Banyak, maaf, tinja yang belum dibersihkan dan menyangkut di lubang closet.
- Kemubaziran adalah bahasa yang pantas untuk fasilitas bandara di Yangon dan Mandalay.International terminal-nya memiliki garbarata cukup banyak namun tak satupun digunakan.Penumpang turun dari pesawat dengan menumpang bus aiport lalu masuk ke arrival terminal melalui tangga biasa.Lalu untuk apa garbarata yang masih baru dan tampak lux tersebut?
- Myanmar memiliki lima maskapai penerbangan, Myanma Airways-Myanmar Airways International, Yangon Airways, Air Bagan dan Air Mandalay.Tiga yang terakhir adalah swasta punya.Mayoritas pesawat kelima maskapai ini adalah pesawat tua berbaling baling, apakah Fokker 27 dan ATR 42/ ATR 72.Air Bagan memiliki Fokker 100 dan Airbus A310 (namun sedang tidak terbang), dan MAI punya pesawat Boeing 737 800.Namun tetap yang terlihat lalu lalang beredar adalah pesawat propeller ATR.Maka, pemandangan di bandara cukup unik.Apron di bandara internasional-nya sepi pesawat, kalaupun ada hanyalah pesawat berbaling-baling.
- Informasi dari buku Lonely Planet,imigrasi di Myanmar tidak hanya untuk international tapi juga untuk domestic departures.Dan saya menemukannya di Mandalay, ketika penumpang berkewargenegaraan Burma mesti dicek ID card-nya di bandara Mandalay hanya untuk terbang ke kota lain di negara yang sama.Jadi ingat dengan muslim Rohingya di provinsi Rakhaing/ Rakhine/ Arakan, dimana untuk bepergian ke desa lain saja merekamesti memiliki traveling permit.
- Jaringan selular di Myanmar termasuk mengerikan. Harga satu sim card amat mahal, sekitar US $ 20, itupun pulsanya mahal dan berlaku hanya satu bulan. Teman saya Ma mengatakan, "Jaringan selular disini amat mahal. Saya punya henpon hanya untuk menerima panggilan, tidak untuk menelepon."Provider seluler Thailand dan Indonesia tak satupun yang sinyalnya dapat ditangkap (saya bawa Simpati, XL dan Matrix sekaligus dan semuanya tewas, juga jaringan Thai - DTAC dan AIS saya).
- Internet? he he he.Di dua warnet yang saya kunjungi di Yangon dan Mandalay, aksesnya lumayan lambat dan yahoo.com serta gmail.com diblokir. Dan jangan lama-lama di warnet, karena listrik bisa mati sewaktu-waktu ketika kita tengah asyik fesbukan dan ber-email ria.
- Jangan banyak bicara politik di Myanmar.Dalam bahasa apapun.Dua teman Myanmar saya amat hati-hati (bahkan cenderung takut) menjawab pertanyaan saya yang sering 'kelepasan'.Ketika saya terlalu banyak bertanya tentang berbagai macam anomali politik sosial dan ekonomi Myanmar, mereka dengan gampang menjawab, " Ok, saya akan jawab pertanyaan kamu di Bangkok, tidak disini."
- Resep untuk survive di Myanmar di tengah iklim ketidakbebasan ini, menurut kedua teman Myanmar saya adalah :"Jadilah low profile dan bekerja keras, jangan terlalu hiraukan segala macam keanehan di sekeliling kamu,"
Demikian sekilas info dari Myanmar,rekam jejak dari seorang first-time traveler to Yangon and Mandalay. Sangat mungkin ini subyektif dan sulit digeneralisasi. Ala kulli hal, namanya juga kesan pertama…
Namun, bagaimanapun parah kondisinya, Myanmar tetap worth visiting.Tetap banyak local wisdoms yang bisa kita pelajari dan orang-orang hebat tempat kita berguru,di tengah segala kesederhanaan dan keterbatasan yang mereka miliki.
Semoga junta militer Myanmar tak memblokir tulisan ini (makanya dibuat dalam bahasa Indonesia), he he he, peace !
Attachments
Kenapa Kapal Tenggelam Lagi (KM Teratai Prima di Perairan Majene)
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 01/12/2009
- Humanity
- Rating: Unrated
Attachments
MENGKRIMINALISASI PENGHINA NABI
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 11/28/2008
- Justice
- Rating: Unrated
Blog ini memang kini sudah tak dapat diakses. Di-blok oleh pengelolalnya wordpress.com karena melanggar terms of service, namun sisa-sisa penghinaannya telah terlanjur menyebar dan menodai keyakinan banyak pihak. Dapatkah kejahatan ini dikriminalisasi dan pelaku penghinaannya diproses secara hukum? Dapatkah ia berlindung di balik klausul kebebasan berekspresi (freedom of expression)?
Attachments
Tahun Kunjungan Wisata 2008, Siapkah ?
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 05/5/2008
- Humanity
- Rating: Unrated
Attachments
Harga Lima Tahun Perang Irak
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 05/2/2008
- Justice
- Rating: Unrated

Iraq War Cost to Date : ### Iraq War Cost
Akibat invasi AS tersebut, setengah dari total dokter di Irak telah tewas ataupun meninggalkan Irak. Angka pengangguran kini mencapai 25% dan kota Baghdad kini hanya menikmati delapan jam listrik saja dalam sehari.
Bagi negara Amerika Serikat sendiri perang Irak adalah bencana. Baik bencana politik, sosial, maupun ekonomi. Jumlah tentara AS yang tewas di Irak per Februari 2008 telah mencapai 3990 jiwa. Sementara 29395 jiwa lainnya mengalami luka-luka (www.antiwar.org). Bandingkan dengan jumlah korban tewas pada peristiwa WTC 9/11 yang berjumlah 2978 jiwa (Washington Post 26/12/06).
Bencana selanjutnya adalah bencana ekonomi. Biaya perang selama lima tahun adalah sejumlah US $ 2 trilyun. Padahal di awal perang, pemerintahan Bush hanya menganggarkan US $ 50 milyar saja.Angka lima puluh milyar dollar AS kini hanya cukup membiayai perang selama tiga bulan saja.
Attachments
Kisah Cobra di LP Anak Pria Tangerang
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 05/2/2008
- Experience
-
Rating:




Unrated
Namanya Cobra.Bukan nama asli memang.Nama aslinya adalah Dhani Ahmad. Cobra adalah nama julukan teman-temannya, sesama napi anak di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak Pria di Tangerang.
Tapi jangan bayangkan ia ganas ataupun berwibawa laksana ular Cobra ataupun gesit dan cepat seperti motor Yamaha RX King Cobra.Cobra yang satu ini justru amat mengundang iba.
Cobra adalah napi anak (istilah yang lebih manusiawi adalah 'andipas'- Anak Didik Pemasyarakatan) yang memiliki cacat berlipat.Sejak lahir ia memiliki keterbelakangan mental.Belakangan, didapati pula ia sulit berbicara.Apalagi ia nyaris tidak memiliki gigi di bagian depan.Belum lama berselang iapun tertimpa penyakit katarak permanen, yang membuat kedua matanya nyaris tak bisa melihat lagi."Kami menyebutnya multiple handicap," ujar F. Haru Tamtomo, kepala Lapas Anak Pria Tangerang. Kisah Cobra di LP Anak Pria Tangerang
Attachments
Blogs by this Author
Daftar Negara Bebas Visa and VOA utk WNI
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 01/24/2010
International Traveling Record - Heru Susetyo
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 01/19/2010
AISYAH ADINDA KITA (YANG BUKAN SEKEDAR PEKERJA MIGRAN)
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 09/1/2009
Max Planck Institute for Public Intl Law Juluy 15, 2009
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 06/8/2009
International Human Rights Academy Cape Town 17 - 31 Oct 2009
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 04/18/2009
ASEAN DAN DILEMA PENEGAKAN HAM
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 03/31/2009
PERAN NEGARA DALAM PENGELOLAAN ZAKAT
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 03/31/2009
Annual Winter Course on Forced Migration Kolkata December 2009
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 03/23/2009
PhD research and Post Doc at UNU Tokyo - Yokohama
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 03/23/2009
PhD Master Short Course at Slovakia
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 03/21/2009