- Home
- Experience
- AL QUR'AN-NYA BERBEDA YA
AL QUR'AN-NYA BERBEDA YA
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 09/1/2009
- Experience
- Unrated
AL QUR’AN-NYA BERBEDA YA?
Sebelas hari pertama bulan Ramadhan 1430 ini saya habiskan di Jepang. Ini tahun kedua Ramadhan di Jepang. Sebelumnya, tahun 2006, saya alhamdulillah sebulan penuh puasa di negeri matahari terbit ini. Berbeda dengan tahun 2006, kali ini saya berpuasa di Ibaraki area dan Tohoku area. Keduanya berlokasi di sisi utara/timur pulau Honshu. Padahal, tiga tahun silam, saya lebih banyak sahur, ber-ifthar, dan beritikaf di Kansai Area (Kyoto, Osaka, Kobe dan sekitarnya).
Karena kepergian ke Jepang kali ini dalam rangka course dan symposium Victimology di Tokiwa University, Mito, maka sepuluh hari pertama Ramadhan ini saya lewatkan di kota kecil nan cantik ini. ALhamdulillah saya pernah empat kali ke kota ini sebelumnya, so sudah lumayan akrab. Ada dua situs cantik yang saya gemari di ibukota prefektur Ibaraki ini, masing-masing adalah Kairakuen Park (Kairaku-en) dan Senba Lake. Senang rasanya memanjakan mata di dua spot indah tersebut.
Maka, bayangan indah tentang Ramadhan ceria di Mito sudah menggelayuti pikiran dan hati saya jauh-jauh hari sebelum pergi ke Mito. Terbayang akan pergi tarawih dan buka bersama di mushala Mito. Terbayang akan sahur bersama dengan sesama course participants ini di dormitory/ international hall milik kampus Tokiwa.
Dan, saya semakin senang ketika mendapati kenyataan ada beberapa wajah Melayu, Bangladesh, India, Pakistan, Iran, bahkan Palestina di antara partisipasan simposium ini. ALhamdulillah, berarti ada teman sahur dan buka bersama di negeri minim masjid ini.
Sayang sekali, ternyata saya terlalu berprasangka baik. Ketika menanyakan kapan waktu buka puasa dan sahur di Mito area, rekan Bangladesh saya, yang sudah tinggal di Mito area sekitar setahunan, malah berkata : “ wah saya tak pernah berpuasa. Dari kecil saya tak pernah puasa, badan saya terlalu lemah,’ ujarnya santai.
“Ok, kalau begitu dimana letak mushala di Mito, tiga tahun lalu saya pernah shalat di mushola Mito. Saya ingin tarawih di mushola Mito, masih berada di dekat Mito Station tidak?” tanya saya lagi penasaran. Sang mahasiswa Bangladesh lalu menjawab :” Wah saya juga tak tahu dimana letak mushala di Mito. Saya juga tak pernah tarawih sejak kecil. Saya hanya tarawih di malam ke 27 saja,” , Gubrakkk (jilid 1).
Putus asa dengan sang mahasiswa Bangladesh, esok harinya saya bertemu dengan seorang partisipan asal India. Perempuan dari New Delhi. Masih muda dan mirip artis Bollywood. Tak sengaja saya bertemu dengannya di dapur dormitory kampus. Setelah berbasi-basi sedikit saya menjelaskan bahwa saya akan berpuasa sebentar lagi. Dan bahwasanya ini bulan Ramadhan dan setiap muslim wajib berpuasa. “Lho, saya juga muslim kok !’ ujar Mbak Bollywood tersebut. “Muslim juga?” spontan saya bertanya heran. Iya heran, karena penampilan fisiknya tak mengesankan ia muslim (tapi tentu saya hanya bertanya dalam hati). “Bagus, kalau begitu kita bisa masak bersama dengan teman-teman yang lain,” ajak saya. “Kita bisa masak bersama untuk sahur maupun berbuka puasa di dapur ini,” tambah saya lagi bersemangat. Bersemangat karena menemukan rekan untuk berpuasa bersama.
Tapi ternyata saya harus menelan kekecewaan lagi. Dengan aksen Inggris khas India, sang Mbak Bollywood berkata : “Oh sorry Heru, maaf saya tak berpuasa disini. Saya terlalu lemah untuk berpuasa. Terimakasih atas tawarannya…” Gubrakk ! (jilid 2)
Sehabis menelan dua kekecewaan ini, saya jadi agak berhati-hati dan tak proaktif menanyakan bersahur dan berbuka dimana, masak apa, kapan waktu maghrib dan subuh, dimana letak masjid, dan seterusnya.
Namun, sikap kehati-hatian ini hanya bertahan dua hari. Karena dua hari kemudian datang seorang Professor dari Palestina. Seorang pakar dalam dunia victimology. “Dia tinggal di West Bank, dan akan tinggal bersama saya di kamar sebelah,”
ujar A, mahasiswa Bangladesh yang pernah bersua dengan saya.
Alhamdulillah, saya bertahmid dalam hati. Berarti ada kesempatan untuk belajar dari pribadi ini. Karena sudah lama saya kagum dengan figur orang-orang Palestina. Nama-nama pejuang seperti Syekh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantissi, Izuddin Al Qossam, Marwan Hadid, dan lain-lain pernah dan masih mengisi memory saya. Maka, sayapun penasaran ingin ngobrol dan mengajak sang Professor Palestina untuk bersahur dan berbuka puasa bersama. Kapan lagi bisa bersua dengan pejuang Palestina?
Tapi, lagi-lagi saya harus kecewa. Ketika kami semua, partisipan dari Indonesia dan Malaysia, berpuasa di hari kedua, dan mesti menahan dahaga di tengah-tengah pembukaan konferensi di hotel internasional Mito, sang Professor Palestina dengan tenangnya minum beer dan di luar gedung tampak merokok. Lha, tak berpuasa dia? Saya protes dalam hati kemudian mengkonfirmasi ke room-mate saya, seorang professor India-Amerika yang kini bekerja di Abu Dhabi.
“Dia muslim kok, tapi memang tak berpuasa, katanya ia sedang jadi musafir jadi tak perlu berpuasa,” ujar rekan Professor India ini. “Kemarin saya mengetok kamarnya untuk mengajak sahur jam dua pagi, eh yang bangun malah rekannya yang Srilanka muslim, sementara dua temannya sang Palestina dan Bangladesh, malah terkesan marah dibangunkan malam-malam,” lanjut professor India ini. Gubrakk! (jilid 3)
Habis sudah kesabaran saya. Sejatinya saya adalah amat toleran dan menghargai hak asasi orang lain. Saya biasa hidup di situasi multikultural sejak kecil dan kinipun masih jadi akademisi dan praktisi HAM. Namun saya tetap kurang bisa menerima alasan seorang muslim tidak berpuasa di bulan puasa. Apalagi tampak luar fisiknya amat sehat dan kuat. Kalau mereka berusia 70 tahunan ke atas dan memiliki maag akut, ataupun penyakit yang memaksa mereka meminum obat secara periodik, saya masih dapat memahami. Juga, menjadi musafir di Jepang di jaman internet ini tak sulit-sulit amat, insya ALlah. Hampir semua moda transportasi Jepang, apakah bus kota, subway, kereta biasa, hingga super express dan kereta peluru shinkansen, semuanya nyaman, bersih, dan mesti ber-AC.
Saya jadi teringat pengalaman istri saya dan saya yang selalu ‘memaksa’ anak-anak kami untuk berlatih puasa, kendati masih di TK ataupun SD kelas 1 dan 2. Juga, teman-teman Indonesia saya di Jepang, Amrik, Eropa, Australia, dan lain-lain, yang kerap melatih anak-anak mereka berpuasa sedari dini dengan iming-iming menambah celengan sang anak, ataupun melatih mereka shalat di masjid dengan membonceng sang anak di malam buta yang amat dingin lima kilometer jauhnya.
Maka, amat wajar, apabila beberapa hari kemudian, seorang Bhiksu Buddha asal Bangladesh (di Thai kerap disebut monk), yang juga partisipan simposium Victimology ini, dan kerap mengenakan kain berwarna saffron, bertanya penasaran kepada kami, partisipan asal Indonesia. “Saya melihat sebagian di antara anda ada yang berpuasa disini, sebagian lagi tidak. Dan kalian datang dari berbagai negara yang berbeda-beda. Memang Al Qur’an kalian berbeda ya sehingga kewajiban puasanya berbeda?”
Dan kamipun speechless. Ingin sekali menjawab bahwa Al Qur’annya sih sama tapi pemahamannya yang berbeda….
Selanjutnya saya jadi sadar, bahwa wajar saja umat ini belum memperoleh kemenangan, wong untuk memenangkan dirinya sendiri saja di bulan Ramadhan ini banyak yang enggan…padahal ini bulan bonus multi barokah yang bukan tak mungkin tak akan dijumpainya kembali di tahun depan. Naudzubillahi min dzalika, maafkan kami semua ya Allah SWT...sayapun tak lebih baik dari mereka...
Beruntunglah, alhamdulillah, bersama saya ada partisipan dari Indonesia dan Malaysia, seorang professor India-American, serta dua orang Srilankan muslim, yang berpuasa. Kendati selera makan dan jenis masakannya berbeda, kami kerap sahur dan berbuka bersama di kitchen campus dormitory. Khususnya untuk dua Srilankan brothers ini saya amat salut. Berasal dari negara miskin sarat konflik serta menjadi minoritas yang berjumlah kurang dari sepuluh persen saja di Srilanka, toh tetap menjaga puasanya.
Ramadhan mubarak for All !
Salaya, 310809
Sebelas hari pertama bulan Ramadhan 1430 ini saya habiskan di Jepang. Ini tahun kedua Ramadhan di Jepang. Sebelumnya, tahun 2006, saya alhamdulillah sebulan penuh puasa di negeri matahari terbit ini. Berbeda dengan tahun 2006, kali ini saya berpuasa di Ibaraki area dan Tohoku area. Keduanya berlokasi di sisi utara/timur pulau Honshu. Padahal, tiga tahun silam, saya lebih banyak sahur, ber-ifthar, dan beritikaf di Kansai Area (Kyoto, Osaka, Kobe dan sekitarnya).
Karena kepergian ke Jepang kali ini dalam rangka course dan symposium Victimology di Tokiwa University, Mito, maka sepuluh hari pertama Ramadhan ini saya lewatkan di kota kecil nan cantik ini. ALhamdulillah saya pernah empat kali ke kota ini sebelumnya, so sudah lumayan akrab. Ada dua situs cantik yang saya gemari di ibukota prefektur Ibaraki ini, masing-masing adalah Kairakuen Park (Kairaku-en) dan Senba Lake. Senang rasanya memanjakan mata di dua spot indah tersebut.
Maka, bayangan indah tentang Ramadhan ceria di Mito sudah menggelayuti pikiran dan hati saya jauh-jauh hari sebelum pergi ke Mito. Terbayang akan pergi tarawih dan buka bersama di mushala Mito. Terbayang akan sahur bersama dengan sesama course participants ini di dormitory/ international hall milik kampus Tokiwa.
Dan, saya semakin senang ketika mendapati kenyataan ada beberapa wajah Melayu, Bangladesh, India, Pakistan, Iran, bahkan Palestina di antara partisipasan simposium ini. ALhamdulillah, berarti ada teman sahur dan buka bersama di negeri minim masjid ini.
Sayang sekali, ternyata saya terlalu berprasangka baik. Ketika menanyakan kapan waktu buka puasa dan sahur di Mito area, rekan Bangladesh saya, yang sudah tinggal di Mito area sekitar setahunan, malah berkata : “ wah saya tak pernah berpuasa. Dari kecil saya tak pernah puasa, badan saya terlalu lemah,’ ujarnya santai.
“Ok, kalau begitu dimana letak mushala di Mito, tiga tahun lalu saya pernah shalat di mushola Mito. Saya ingin tarawih di mushola Mito, masih berada di dekat Mito Station tidak?” tanya saya lagi penasaran. Sang mahasiswa Bangladesh lalu menjawab :” Wah saya juga tak tahu dimana letak mushala di Mito. Saya juga tak pernah tarawih sejak kecil. Saya hanya tarawih di malam ke 27 saja,” , Gubrakkk (jilid 1).
Putus asa dengan sang mahasiswa Bangladesh, esok harinya saya bertemu dengan seorang partisipan asal India. Perempuan dari New Delhi. Masih muda dan mirip artis Bollywood. Tak sengaja saya bertemu dengannya di dapur dormitory kampus. Setelah berbasi-basi sedikit saya menjelaskan bahwa saya akan berpuasa sebentar lagi. Dan bahwasanya ini bulan Ramadhan dan setiap muslim wajib berpuasa. “Lho, saya juga muslim kok !’ ujar Mbak Bollywood tersebut. “Muslim juga?” spontan saya bertanya heran. Iya heran, karena penampilan fisiknya tak mengesankan ia muslim (tapi tentu saya hanya bertanya dalam hati). “Bagus, kalau begitu kita bisa masak bersama dengan teman-teman yang lain,” ajak saya. “Kita bisa masak bersama untuk sahur maupun berbuka puasa di dapur ini,” tambah saya lagi bersemangat. Bersemangat karena menemukan rekan untuk berpuasa bersama.
Tapi ternyata saya harus menelan kekecewaan lagi. Dengan aksen Inggris khas India, sang Mbak Bollywood berkata : “Oh sorry Heru, maaf saya tak berpuasa disini. Saya terlalu lemah untuk berpuasa. Terimakasih atas tawarannya…” Gubrakk ! (jilid 2)
Sehabis menelan dua kekecewaan ini, saya jadi agak berhati-hati dan tak proaktif menanyakan bersahur dan berbuka dimana, masak apa, kapan waktu maghrib dan subuh, dimana letak masjid, dan seterusnya.
Namun, sikap kehati-hatian ini hanya bertahan dua hari. Karena dua hari kemudian datang seorang Professor dari Palestina. Seorang pakar dalam dunia victimology. “Dia tinggal di West Bank, dan akan tinggal bersama saya di kamar sebelah,”
Alhamdulillah, saya bertahmid dalam hati. Berarti ada kesempatan untuk belajar dari pribadi ini. Karena sudah lama saya kagum dengan figur orang-orang Palestina. Nama-nama pejuang seperti Syekh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantissi, Izuddin Al Qossam, Marwan Hadid, dan lain-lain pernah dan masih mengisi memory saya. Maka, sayapun penasaran ingin ngobrol dan mengajak sang Professor Palestina untuk bersahur dan berbuka puasa bersama. Kapan lagi bisa bersua dengan pejuang Palestina?
Tapi, lagi-lagi saya harus kecewa. Ketika kami semua, partisipan dari Indonesia dan Malaysia, berpuasa di hari kedua, dan mesti menahan dahaga di tengah-tengah pembukaan konferensi di hotel internasional Mito, sang Professor Palestina dengan tenangnya minum beer dan di luar gedung tampak merokok. Lha, tak berpuasa dia? Saya protes dalam hati kemudian mengkonfirmasi ke room-mate saya, seorang professor India-Amerika yang kini bekerja di Abu Dhabi.
“Dia muslim kok, tapi memang tak berpuasa, katanya ia sedang jadi musafir jadi tak perlu berpuasa,” ujar rekan Professor India ini. “Kemarin saya mengetok kamarnya untuk mengajak sahur jam dua pagi, eh yang bangun malah rekannya yang Srilanka muslim, sementara dua temannya sang Palestina dan Bangladesh, malah terkesan marah dibangunkan malam-malam,” lanjut professor India ini. Gubrakk! (jilid 3)
Habis sudah kesabaran saya. Sejatinya saya adalah amat toleran dan menghargai hak asasi orang lain. Saya biasa hidup di situasi multikultural sejak kecil dan kinipun masih jadi akademisi dan praktisi HAM. Namun saya tetap kurang bisa menerima alasan seorang muslim tidak berpuasa di bulan puasa. Apalagi tampak luar fisiknya amat sehat dan kuat. Kalau mereka berusia 70 tahunan ke atas dan memiliki maag akut, ataupun penyakit yang memaksa mereka meminum obat secara periodik, saya masih dapat memahami. Juga, menjadi musafir di Jepang di jaman internet ini tak sulit-sulit amat, insya ALlah. Hampir semua moda transportasi Jepang, apakah bus kota, subway, kereta biasa, hingga super express dan kereta peluru shinkansen, semuanya nyaman, bersih, dan mesti ber-AC.
Saya jadi teringat pengalaman istri saya dan saya yang selalu ‘memaksa’ anak-anak kami untuk berlatih puasa, kendati masih di TK ataupun SD kelas 1 dan 2. Juga, teman-teman Indonesia saya di Jepang, Amrik, Eropa, Australia, dan lain-lain, yang kerap melatih anak-anak mereka berpuasa sedari dini dengan iming-iming menambah celengan sang anak, ataupun melatih mereka shalat di masjid dengan membonceng sang anak di malam buta yang amat dingin lima kilometer jauhnya.
Maka, amat wajar, apabila beberapa hari kemudian, seorang Bhiksu Buddha asal Bangladesh (di Thai kerap disebut monk), yang juga partisipan simposium Victimology ini, dan kerap mengenakan kain berwarna saffron, bertanya penasaran kepada kami, partisipan asal Indonesia. “Saya melihat sebagian di antara anda ada yang berpuasa disini, sebagian lagi tidak. Dan kalian datang dari berbagai negara yang berbeda-beda. Memang Al Qur’an kalian berbeda ya sehingga kewajiban puasanya berbeda?”
Dan kamipun speechless. Ingin sekali menjawab bahwa Al Qur’annya sih sama tapi pemahamannya yang berbeda….
Selanjutnya saya jadi sadar, bahwa wajar saja umat ini belum memperoleh kemenangan, wong untuk memenangkan dirinya sendiri saja di bulan Ramadhan ini banyak yang enggan…padahal ini bulan bonus multi barokah yang bukan tak mungkin tak akan dijumpainya kembali di tahun depan. Naudzubillahi min dzalika, maafkan kami semua ya Allah SWT...sayapun tak lebih baik dari mereka...
Beruntunglah, alhamdulillah, bersama saya ada partisipan dari Indonesia dan Malaysia, seorang professor India-American, serta dua orang Srilankan muslim, yang berpuasa. Kendati selera makan dan jenis masakannya berbeda, kami kerap sahur dan berbuka bersama di kitchen campus dormitory. Khususnya untuk dua Srilankan brothers ini saya amat salut. Berasal dari negara miskin sarat konflik serta menjadi minoritas yang berjumlah kurang dari sepuluh persen saja di Srilanka, toh tetap menjaga puasanya.
Ramadhan mubarak for All !
Salaya, 310809