ARAB JAWI DI NEGERI ES KOPI

By : Heru Susetyo

Aksara Arab Jawi, atau di Indonesia sering disebut 'Arab Pegon' dan 'Arab Gundul', ternyata tak hanya eksis di Malaysia (Trengganu, Kelantan, Kedah dan Perlis) dan Thailand Selatan (Patani, Yala, Narathiwat), namun juga di 'negeri es kopi' Vietnam.

Negeri es kopi?Ya karena penduduk Vietnam gemar minum kopi yang diberi es (baik berwujud kopi kental hitam maupun dicampur susu), yang diminum tak kenal waktu. Bisa pagi, siang, maupun malam.Lain lubuk lain ikannya, di negeri jirannya yaitu Thailand penduduknya lebih suka menyeruput es teh susu (cha yen), yang hampir mirip dengan teh tarik di Malaysia.

Merujuk buku Malay Manuscripts : An Introduction (Ahmad Zakaria & Abdul Latif, 2008) aksara Arab Jawi sejatinya lahir dan berkembang di tanah Melayu sejalan dengan perkembangan Islam di Nusantara.Jejak Islam fase awal di nusantara paling tidak ditemukan di Kedah (makam Sheikh Abdul Qadir Ibn Husin Shah Alam tahun 903 M/ 290 H), makam putri Sultan Abdul Majid ibn Mohamad Shah di Brunei (tahun 1048 M/ 440 H) dan makam Fatimah binti Maimun di Gresik Jawa Timur (tahun1082 M/ 475 H).

Pedagang dan pengelana Arab adalah aktor utama pengenalan Islam ke nusantara. Dimana Islam kemudian merebak ke keluarga kerajaan dan masyarakat umum. Zakaria dan Latif (2008) menyebutkan bahwa kerajaan Islam pertama di nusantara sangat mungkin adalah Pasai (Samodera Pasai) pada abad 12 - 13, kemudian Perlak (Peurelak) pada abad 14 (berdasarkan rekaman perjalanan dari Ibnu Batutta dan Marco Polo).Setelah kedua kerajaan 'kecil' tersebut, lahirlah kerajaan Malaka (Melacca) yang disebut-sebut sebagai kerajaan Islam terkuat di nusantara saat itu.Sayangnya,pada tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Masih menurut Zakaria dan Latif (2008), pada masa lampau ada dua cara yang digunakan orang Melayu untuk belajar Al Qur'an.Pertama adalah menghafal melalui transmisi verbal dan kedua adalah dengan mempelajari naskahnya (script), yaitu bahasa Arab tulisan yang metode belajarnya agak berbeda dengan bahasa Arab lisan (verbal/ spoken language).

Peter J. Wilson (dalam Zakaria & Latif, 2008) menyebutkan : "Islam adalah institusi utama yang tak hanya menyatukan orang Melayu namun juga menghubungkan orang Melayu dengan warga dunia yang lain melalui sistem pemikiran dan sistem perilaku tertentu.Warga kampung di Tanah Melayu diajari tentang Islam dan membaca AL Qur'an sejak usia dini. Apakah di rumah maupun di pondok-pondok sederhana yang dibina guru setempat."

Kendati tanah Melayu berada dalam cengkeraman kolonial pada abad 16 hingga pertengahan abad 20,laju perkembangan aksara Arab-Melayu tetap tak tertahankan dan mencapai puncaknya pada abad 15 – 17 dimana naskah-naskah berbahasa Arab dan Iran (Persia) diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu untuk konsumsi penduduk local.Naskah yang paling banyak diterjemahkan adalah agama dan sastra.Contoh paling terkenal adalah penerjemahan 'Hikayat Bayan Budiman' (the parrot's seventy tales).

Pencetakan buku pertama dalam aksara Arab Melayu dimulai pada awal abad 19.Surat kabar pertama beraksara Arab Jawi pertama adalah 'Jawi Peranakan' yang lahir di Singapura pada tahun 1876 dan Utusan Melayu yang diterbitkan pada tahun 1907 di Singapura dan masih tetap terbit sampai sekarang (kendati telah berganti aksara menjadi huruf Latin).

Darimana istilah 'Arab Jawi' muncul?Aksara Arab Jawi adalah berasal dari aksara Arab.Jawi adalah kombinasi dari aksara Arab dan Persia dimana lahir huruf-huruf tambahan seperti : 'pa', 'nga', 'nya', 'cha','ga', dan 'va'. Sumber dari Wikipedia menyebutkan bahwa Arab Jawi berasal dari literature Arab yang melalui kontak orang Persia dengan Kesultanan Melayu di Jambi – Palembang melahirkan Arab Jawi.Istilah 'Jawi' amat mungkin berasal dari 'Jawa'.Di tanah Patani Thailand Selatan (terdiri atas tiga propinsi : Patani, Yala, dan Narathiwat) Arab Jawi disebut sebagai 'Arab Yawi.'

Sejak lahirnya pada abad 15, Arab Jawi telah dipergunakan secara luas di Malaysia (utamanya di negara bagian Kelantan, Trengganu, Melaka, Kedah, Perlis, dan Johor), di Brunei Darussalam, di Thailand Selatan, di sebagian kecil Indonesia, dan juga oleh orang Cham (di Cambodia maupun Vietnam).

Fenomena kedekatan orang Cham dengan kultur Melayu ini dijelaskan oleh Paul Michael Munoz (dalam Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia,2009) bahwa sejak era Cham dibangun oleh bangsa China (Lin Yi) pada abad 2 M telah mengikat hubungan dagang dengan semenanjung Malaysia : "….pelabuhan-pelabuhan Cham seperti Quang Nam, Nha Trang dan Phan Rang menyediakan pelabuhan alami dan persediaan air minum bagi kapal-kapal yang berdagang antara Semenanjung Malaysia, Vietnam Utara dan CinaQuang Nam menjadi pelabuhan alam terbaik di Vietnam Selatan, dimana kapal-kapal yang berdagang antara India, Sumatera, Jawa dan Cina mampu mengambil bahan-bahan persediaan berlayar dan air segar…" (hal. 131).

Penggunaan Arab Jawi oleh orang Cham ini dijelaskan oleh Zakaria dan Latif (2008) sebagai berikut :"….in addition to Jawi, other local languages, such as Javanese, Siamese, Cham, and Buginese, have been used for writing manuscripts, often adopting Arabic or Jawi as the main text."(sebagai tambahan, bahasa-bahasa lain seperti bahasa Jawa, bahasa Siam, bahasa Cham dan bahasa Bugis adalah juga telah menggunakan aksara Arab Jawi dalam naskah-naskah utamanya).

 

Hal ini membantu menjelaskan, bahwa kendati tampak luarnya beraksara Arab, namun sesungguhnya bahasa yang digunakan oleh Arab Jawi tidak semata-mata bahasa Arab, namun juga bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Bugis, Bahasa Siam (Thai), dan bahkan bahasa Cham.

Namun, entah mengapa perkembangan Arab Jawi di Indonesia pada era kontemporer ini kurang terlihat. Dalam versi wikipedia (2009) disebutkan bahwa :"… in Indonesia, it is today seen as 'backward' or 'kampungan', lacking the grace, beauty and illustrious nature of Javanese"(Di Indonesia penggunaan aksara Arab Jawi sering disebut kampungan, seolah tak layak disepadankan dengan kultur Jawa yang cantik dan agung).

Kembali ke 'negeri es kopi', orang Cham muslim di Vietnam (dan juga yang kami temukan di Siem Reap dan Phnom Penh, Cambodia) sampai saat ini masih menggunakan Arab Jawi sebagai aksara utamanya.Aksara Cham adalah Arab Jawi yang digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, bahasa Melayu, dan bahasa Cham sendiri(dapat dilihat pada gambar di bawah).Disamping bahasa Cham, rata-rata orang Cham Vietnam dapat juga berbahasa Vietnam selaku bahasa nasionalnya.Dan, berdasarkan informasi dari Imam Masjid Jamiul Anwar di District 8 Saigon, bahasa Cham dan bahasa Vietnam sangat tidak sama alias berbeda.

Yang menjadi kekhawatiran utama saat ini adalah aksara Arab Jawi ala Cham ini terancam punah.Maklumlah, jumlah penggunanya amat sedikit. Menurut Imam Abdulraman bin Ibrahim, warga Cham di Saigon berkisar 5000 – 6000 jiwa saja dan total di seluruh Vietnam berjumlah 72.000 jiwa.Sementara itu, menurut versi Philip Taylor dalam Cham Muslims in Mekong Delta, 2007, jumlah warga Cham di Vietnam hanyalah berkisar 13.000 jiwa saja.

Sebaliknya,aksara Arab Jawi ala Cham di Cambodia kemungkinan memilikinafas lebih panjang.Karena jumlah warga Cham muslim di Cambodia jauh lebih banyak daripada di Vietnam(pernah mencapai satu juta jiwa sebelum era pembantaian Khmer Rouge 1975 – 1979).Juga, sampai saat ini,buku-buku Arab Melayu masih digunakan sebagai salah satu instrumen belajar Islam di masjid-masjid dan pondok-pondok Cambodia.Yang ajaib, dari dua sumber kami di Siem Reap dan Phnom Penh, menyebutkan bahwa untuk mengajarkan anak-anak mereka mengaji Al Qur'an, mereka menggunakan buku dan metode pembelajaran IQRO dari Yogyakarta !

Wallahua'lam