- Home
- Experience
- MYANMAR : TIPS MENYELINAP DARI THAILAND DAN KESAN PERTAMA
MYANMAR : TIPS MENYELINAP DARI THAILAND DAN KESAN PERTAMA
- By Heru Susetyo Nuswanto
- Published 07/26/2009
- Experience
- Unrated
MYANMAR : TIPS MENYELINAP DARI THAILAND DAN KESAN PERTAMA
Dari sepuluh negara ASEAN, Myanmar alias Burma barangkali adalah negara terakhir yang masuk daftar untuk dikunjungi para traveler. Masuk akal juga sih. Negeri ini dua puluh tahun terakhir kondang memproduksi catatan-catatan seram tentang pelanggaran HAM, kekerasan politik, kesewenang-wenangan junta militer, dan lain sebagainya. Ingatan orang tentang Myanmar melulu adalah nasib tragis Aung San Suu Kyi, kekerasan terhadap buddhist monk pada September 2007, dan Cyclone Nargis yang menelan banyak korban di Delta Irawadi pada Mei 2008 silam.
"It's dangerous country, I don't want to go there, I prefer to go to Bali or Ho Chi Minh City," ujar seorang supir taxi asal Krabi Thai yang saya tumpangi di Bangkok. Sang supir dengan bahasa Inggris patah-patah namun penuh semangat menjelaskan bahwa Thailand memang berbagi border ribuan kilometer panjangnya dengan Myamar, namun toh ia tidak mau pergi kesana.
Padahal, Myanmar adalah negeri indah dengan peradaban tua yang really worth visiting. Dengan luas 676,578 km2, ia adalah negeri terluas kedua di ASEAN setelah Indonesia. Juga, hingga kini, adalah satu-satunya negara ASEAN yang penduduknya (U Thant) pernah jadi Sekjen PBB selama sepuluh tahun, 1961 - 1971. Hebat kan?
Panorama Myanmar terbilang lengkap, mulai dari kecantikan laut dan pantai sepanjang Laut Andaman dan Teluk Bengal, peninggalan kolonial Inggris yang masih berjejak jelas di kota-kota besarnya, sisa-sisa kerajaan dan peradaban masa silam yang masih terekam kuat di Bagan, Mandalay, dan sekitarnya, hingga sajian alam perbukitan, pegunungan, hingga atap dunia Himalaya yang ekornya mampir juga ke sisi utara Myanmar.
Myanmar berbatasan darat dengan banyak negara. Bangladesh, India, China, Lao PDR, dan Thailand. Tak heran, ciri-ciri fisik penduduknya bervariasi. Mulai yang bertampang ala Melayu, China, India-Bengal, Thai-Lao PDR, ataupun gabungan kesemuanya. Tak heran, saya yang konon berwajah Melayu, sering disangka orang Myanmar disana. Kalau saja saya tidak ngomong, diam saja, orang mesti mengira saya orang Myanmar. Beberapa kali saya ditegur paksa : "You are not Burmese? how come? you look like Burmese!" Dan ini menguntungkan, karena dengan 'Burmese Lookalike' ini saya dapat masuk ke spot-spot tourist dengan tarif khusus penduduk lokal. Lumayan menghemat US $ 5 per visit !
Kendati beragam, penduduknya tidak bisa disebut banyak. Hanya berkisar 47 - 52 juta. Masih kalah dengan penduduk Vietnam ataupun Thailand yang dari segi luas wilayahnya lebih kecil dari Myanmar.
Pintu masuk utama Myanmar adalah Yangon (Rangoon) dan Mandalay. Keduanya adalah mantan Ibukota Myanmar. Sejak November 2005, junta militer memindahkan ibukota ke Naypyidaw. Kota sepi di tengah hutan dan padang belantara berjarak 320 km utara Yangon. Banyak pengamat mengatakan alasan kepindahan ini tak rasional. Lebih karena kepercayaan terhadap takhayul dan paranoid para junta.
Penerbangan internasional amat sedikit yang menyinggahi Yangon dan Mandalay. Hanya tiga kota internasional yang ikhlas menerbangkan pesawatnya dengan frekwensi agak sering ke Yangon, yaitu dari Singapore, Kuala Lumpur, dan Bangkok.
Bagaimana menyelinap ke Myanmar dari
Thailand? perbatasan darat Myanmar dengan Thailand luar biasa panjang sebenarnya. Mulai dari daerah Golden Triangle di Mae-Sai/ Tachilek, hingga menjejak ke selatan ribuan kilo panjangnya hingga laut Andaman- Semenanjung Kra. Tak heran, pantai barat Myanmar di sisi semenanjung Kra turut terlibas tsunami Aceh pada tahun 2004.
Pintu masuk darat menuju Myanmar cukup banyak. Mae Sai di ujung utara Chiang Rai, Mae Sot dan Three Pagoda Pass di sisi barat laut, Kawthaung- Victoria point di sisi selatan berbatasan dengan Ranong province, Thailand.
Bagi warga Indonesia di Thailand, cara paling baik menjejak Myanmar adalah lewat udara. Thai Airways dan Air Asia menerbangi rute Bangkok - Yangon setiap hari. Tiket Air Asia juga lumayan murah. Tak lebih dari USD 100 pp. Sayangnya, untuk masuk Myanmar warga Indonesia perlu visa. Dan inilah negeri ASEAN satu-satunya dimana warga Indonesia perlu visa yang harus di apply di Myanmar embassy beberapa hari sebelumnya! Mengunjungi Lao PDR dan Cambodia memang perlu visa juga, tapi cukup on arrival visa.
Myanmar embassy di Bangkok berlokasi di daerah Sathorn, persisnya 132 Sathorn Nua rd. Kalau menumpang BTS dari Siam ambillah jurusan Saphan Taksin/ Wongwian Yai dan turun di Surasak. Cari exit no 3 dan berjalan kaki ke arah timur sampai bertemu Bangkok Christian College di sebelah kiri dan Catholic Hospital di seberang kanan. Myanmar embassy terletak persis di corner. Visa dan consular section terletak di kanan belakang. Loket visa buka mulai pukul 08 - 12 dan 13-15. Lalu pengambilan visa dan passport pada pukul 15 - 16.
Syarat-syarat mengajukan visa cukup sederhana. Apalagi bagi yang menyandang visa turis ke Thailand. Cukup pas foto passport size dua buah, mengisi form, copy passport sisi depannya dan juga copy visa Thailand, plus membayar non refundable visa fee 850 THB (kenapa ya dimanapun visa fee selalu non refundable?). Bagi penyandang visa kerja dan studi mesti melampirkan dokumen tambahan seperti keterangan tempat kerja atau keterangan dari kampus (atau cukup kartu pelajar sahaja).
Bagi turis asing, biasanya dalam sehari visa sudah bisa di pick up. Tapi dalam kasus saya, mesti menunggu dua hari kerja. Dimasukkan Rabu siang dan baru bisa diambil Jum'at sorenya. Alhamdulillah dapat visa juga.
Cara lain menjejak Myanmar adalah via darat dari pintu Mae Sai di Chiang Rai (Golden Triangle). Disini tak perlu visa. Cukup membayar 500 THB, beri copy passport dan persis di border Myanmar passport kita akan ditahan. Silakan masuk Tachilek - Shan State tanpa passport ! Nah, dalam keadaan tanpa identitas penting ini jelas kita tak bisa pergi jauh-jauh dari kota ini. Dan memang border pass ini hanya valid untuk kota ini dan sekitarnya. Tak boleh menyeberang ke provinsi lain.
So bagaimana? masih ingin ke Myanmar? Lonely Planet, buku panduan traveler kesohor, memiliki dua advis unik untuk mereka yang ingin ke Myanmar. Dan tak biasanya Lonely Planet memberikan pilihan ini. Sang penulis bilang, pertama-tama kalau anda ingin ke Myanmar anda harus bertanya : Should you go? to go or not to go? Reasons not to go adalah bla bla bla... Reasons to Go adalah bla bla bla....alasan untuk pergi adalah karena negeri ini indah dan uang para turis dapat membantu mempertebal kantong penduduk lokal yang amat tipis... alasan untuk tidak pergi adalah karena Aung San Suu Kyi pernah minta turis untuk tidak datang, karena uang turis akan memperkaya para junta..juga karena banyak turis spot dibangun melalui keringat para forced labors..de el el
Dari sepuluh negara ASEAN, Myanmar alias Burma barangkali adalah negara terakhir yang masuk daftar untuk dikunjungi para traveler. Masuk akal juga sih. Negeri ini dua puluh tahun terakhir kondang memproduksi catatan-catatan seram tentang pelanggaran HAM, kekerasan politik, kesewenang-wenangan junta militer, dan lain sebagainya. Ingatan orang tentang Myanmar melulu adalah nasib tragis Aung San Suu Kyi, kekerasan terhadap buddhist monk pada September 2007, dan Cyclone Nargis yang menelan banyak korban di Delta Irawadi pada Mei 2008 silam.
"It's dangerous country, I don't want to go there, I prefer to go to Bali or Ho Chi Minh City," ujar seorang supir taxi asal Krabi Thai yang saya tumpangi di Bangkok. Sang supir dengan bahasa Inggris patah-patah namun penuh semangat menjelaskan bahwa Thailand memang berbagi border ribuan kilometer panjangnya dengan Myamar, namun toh ia tidak mau pergi kesana.
Padahal, Myanmar adalah negeri indah dengan peradaban tua yang really worth visiting. Dengan luas 676,578 km2, ia adalah negeri terluas kedua di ASEAN setelah Indonesia. Juga, hingga kini, adalah satu-satunya negara ASEAN yang penduduknya (U Thant) pernah jadi Sekjen PBB selama sepuluh tahun, 1961 - 1971. Hebat kan?
Panorama Myanmar terbilang lengkap, mulai dari kecantikan laut dan pantai sepanjang Laut Andaman dan Teluk Bengal, peninggalan kolonial Inggris yang masih berjejak jelas di kota-kota besarnya, sisa-sisa kerajaan dan peradaban masa silam yang masih terekam kuat di Bagan, Mandalay, dan sekitarnya, hingga sajian alam perbukitan, pegunungan, hingga atap dunia Himalaya yang ekornya mampir juga ke sisi utara Myanmar.
Myanmar berbatasan darat dengan banyak negara. Bangladesh, India, China, Lao PDR, dan Thailand. Tak heran, ciri-ciri fisik penduduknya bervariasi. Mulai yang bertampang ala Melayu, China, India-Bengal, Thai-Lao PDR, ataupun gabungan kesemuanya. Tak heran, saya yang konon berwajah Melayu, sering disangka orang Myanmar disana. Kalau saja saya tidak ngomong, diam saja, orang mesti mengira saya orang Myanmar. Beberapa kali saya ditegur paksa : "You are not Burmese? how come? you look like Burmese!" Dan ini menguntungkan, karena dengan 'Burmese Lookalike' ini saya dapat masuk ke spot-spot tourist dengan tarif khusus penduduk lokal. Lumayan menghemat US $ 5 per visit !
Kendati beragam, penduduknya tidak bisa disebut banyak. Hanya berkisar 47 - 52 juta. Masih kalah dengan penduduk Vietnam ataupun Thailand yang dari segi luas wilayahnya lebih kecil dari Myanmar.
Pintu masuk utama Myanmar adalah Yangon (Rangoon) dan Mandalay. Keduanya adalah mantan Ibukota Myanmar. Sejak November 2005, junta militer memindahkan ibukota ke Naypyidaw. Kota sepi di tengah hutan dan padang belantara berjarak 320 km utara Yangon. Banyak pengamat mengatakan alasan kepindahan ini tak rasional. Lebih karena kepercayaan terhadap takhayul dan paranoid para junta.
Penerbangan internasional amat sedikit yang menyinggahi Yangon dan Mandalay. Hanya tiga kota internasional yang ikhlas menerbangkan pesawatnya dengan frekwensi agak sering ke Yangon, yaitu dari Singapore, Kuala Lumpur, dan Bangkok.
Bagaimana menyelinap ke Myanmar dari
Pintu masuk darat menuju Myanmar cukup banyak. Mae Sai di ujung utara Chiang Rai, Mae Sot dan Three Pagoda Pass di sisi barat laut, Kawthaung- Victoria point di sisi selatan berbatasan dengan Ranong province, Thailand.
Bagi warga Indonesia di Thailand, cara paling baik menjejak Myanmar adalah lewat udara. Thai Airways dan Air Asia menerbangi rute Bangkok - Yangon setiap hari. Tiket Air Asia juga lumayan murah. Tak lebih dari USD 100 pp. Sayangnya, untuk masuk Myanmar warga Indonesia perlu visa. Dan inilah negeri ASEAN satu-satunya dimana warga Indonesia perlu visa yang harus di apply di Myanmar embassy beberapa hari sebelumnya! Mengunjungi Lao PDR dan Cambodia memang perlu visa juga, tapi cukup on arrival visa.
Myanmar embassy di Bangkok berlokasi di daerah Sathorn, persisnya 132 Sathorn Nua rd. Kalau menumpang BTS dari Siam ambillah jurusan Saphan Taksin/ Wongwian Yai dan turun di Surasak. Cari exit no 3 dan berjalan kaki ke arah timur sampai bertemu Bangkok Christian College di sebelah kiri dan Catholic Hospital di seberang kanan. Myanmar embassy terletak persis di corner. Visa dan consular section terletak di kanan belakang. Loket visa buka mulai pukul 08 - 12 dan 13-15. Lalu pengambilan visa dan passport pada pukul 15 - 16.
Syarat-syarat mengajukan visa cukup sederhana. Apalagi bagi yang menyandang visa turis ke Thailand. Cukup pas foto passport size dua buah, mengisi form, copy passport sisi depannya dan juga copy visa Thailand, plus membayar non refundable visa fee 850 THB (kenapa ya dimanapun visa fee selalu non refundable?). Bagi penyandang visa kerja dan studi mesti melampirkan dokumen tambahan seperti keterangan tempat kerja atau keterangan dari kampus (atau cukup kartu pelajar sahaja).
Bagi turis asing, biasanya dalam sehari visa sudah bisa di pick up. Tapi dalam kasus saya, mesti menunggu dua hari kerja. Dimasukkan Rabu siang dan baru bisa diambil Jum'at sorenya. Alhamdulillah dapat visa juga.
Cara lain menjejak Myanmar adalah via darat dari pintu Mae Sai di Chiang Rai (Golden Triangle). Disini tak perlu visa. Cukup membayar 500 THB, beri copy passport dan persis di border Myanmar passport kita akan ditahan. Silakan masuk Tachilek - Shan State tanpa passport ! Nah, dalam keadaan tanpa identitas penting ini jelas kita tak bisa pergi jauh-jauh dari kota ini. Dan memang border pass ini hanya valid untuk kota ini dan sekitarnya. Tak boleh menyeberang ke provinsi lain.
So bagaimana? masih ingin ke Myanmar? Lonely Planet, buku panduan traveler kesohor, memiliki dua advis unik untuk mereka yang ingin ke Myanmar. Dan tak biasanya Lonely Planet memberikan pilihan ini. Sang penulis bilang, pertama-tama kalau anda ingin ke Myanmar anda harus bertanya : Should you go? to go or not to go? Reasons not to go adalah bla bla bla... Reasons to Go adalah bla bla bla....alasan untuk pergi adalah karena negeri ini indah dan uang para turis dapat membantu mempertebal kantong penduduk lokal yang amat tipis... alasan untuk tidak pergi adalah karena Aung San Suu Kyi pernah minta turis untuk tidak datang, karena uang turis akan memperkaya para junta..juga karena banyak turis spot dibangun melalui keringat para forced labors..de el el